Suarabijak.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sorotan dunia usai membagikan gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan dirinya sedang menancapkan bendera Amerika Serikat di wilayah Greenland. Unggahan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik terkait ambisi Trump untuk mengintegrasikan Greenland, sebuah wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark, ke dalam wilayah AS.
Gambar yang diposting Trump melalui akun media sosialnya itu memperlihatkan dirinya berdiri di permukaan tanah Greenland sambil meletakkan bendera Amerika di tanah beku. Ia tampak didampingi oleh Wakil Presiden AS, JD Vance, serta Menteri Luar Negeri, Marco Rubio. Di depannya terlihat sebuah papan bertuliskan “GREENLAND — US TERRITORY EST. 2026”, seolah menegaskan klaim simbolis bahwa Greenland telah menjadi bagian dari Amerika Serikat sejak tahun 2026.
Unggahan visual tersebut belum berdiri sendiri. Trump juga mengedarkan gambar AI lain yang memperlihatkan dirinya berada di dalam Ruang Oval bersama beberapa pemimpin Eropa sambil menunjukkan peta yang menggambarkan Greenland, Kanada, dan Venezuela sebagai wilayah yang berada di bawah bendera AS. Gambar kedua ini memperlihatkan Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, Presiden Prancis Emmanuel Macron, serta Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen “hadir” dalam ilustrasi yang dihasilkan oleh AI tersebut.
Langkah Trump ini bukan sekadar atraksi digital semata. Sejak awal, ia telah menegaskan keyakinannya bahwa Amerika Serikat perlu mengambil alih Greenland dari kendali Denmark dengan alasan alasan strategis dan keamanan nasional. Trump berulangkali menyatakan bahwa kepemilikan AS atas wilayah itu akan menjadi benteng terhadap pengaruh yang berkembang dari Rusia atau China di kawasan Arktik, serta sebagai upaya untuk melindungi kepentingan nasional Amerika Serikat.
Dalam kesempatan terpisah, Trump bahkan secara singkat menanggapi pertanyaan wartawan mengenai ambisinya tersebut dengan mengatakan, “Anda akan mengetahuinya,” tanpa memberikan batasan jelas terkait langkah yang akan diambil Washington untuk mewujudkan niatnya menguasai Greenland. Pernyataan ini disampaikan di Gedung Putih ketika ia ditanya tentang arah kebijakan luar negeri soal isu tersebut.
Respons terhadap unggahan Trump tidak hanya datang dari publik internasional, tetapi terutama dari pejabat resmi Greenland. Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, menyatakan bahwa gambar yang diunggah oleh Presiden AS dipandang sebagai tindakan yang tidak pantas. Nielsen menegaskan bahwa isu-isu berkaitan dengan klaim wilayah seharusnya dibahas lewat saluran diplomatik yang tepat, bukan melalui media sosial. Ia mengatakan, “Kami tentu mengikuti apa yang terjadi di media sosial, dan (unggahan) itu tidak pantas,” sambil menambahkan bahwa dialog resmi lebih layak digunakan untuk menyelesaikan masalah sensitif seperti ini.
Lebih jauh, Nielsen mengingatkan bahwa Greenland merupakan bagian dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), dan setiap tindakan militer di wilayah tersebut akan membawa konsekuensi luas melampaui batas geografisnya sendiri. Di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Arktik, ia menilai bahwa penting untuk meningkatkan kesiapan dan kehadiran militer di wilayah tersebut.
Kritik terhadap langkah Trump juga muncul di berbagai belahan dunia, termasuk kekhawatiran bahwa ungkapan-ungkapan semacam ini dapat memperburuk hubungan antara Amerika Serikat dan sekutu tradisionalnya di Eropa. Sementara itu, diskusi tentang status Greenland terus berlanjut di forum-forum internasional, mencerminkan kompleksitas isu geopolitik yang melibatkan kedaulatan nasional, strategi pertahanan, serta dinamika kekuatan global.

