ingginya mobilitas masyarakat menuntut negara untuk mampu mengantisipasi dinamika pergerakan sebelum gangguan benar-benar terjadi. Pendekatan inilah yang kini diperkuat melalui kehadiran Command Center KM 29 Korlantas Polri, sebuah pusat kendali lalu lintas nasional yang dirancang berbasis data, teknologi, dan koordinasi presisi. Sistem ini menandai pergeseran pola kerja dari responsif menjadi prediktif.
Berlokasi di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Command Center KM 29 berfungsi sebagai simpul integrasi informasi lalu lintas dari berbagai wilayah di Indonesia. Ribuan data visual dari CCTV, sensor lalu lintas, laporan petugas lapangan, hingga perangkat bergerak dihimpun dalam satu sistem terpadu. Melalui pusat kendali ini, arus kendaraan dapat dipantau secara real-time, dianalisis secara komprehensif, lalu diterjemahkan menjadi keputusan operasional yang cepat dan terukur.
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Agus Suryonugroho, menegaskan pentingnya sistem terintegrasi tersebut dalam menjaga keselamatan publik. “Satu layar kami pantau, jutaan pergerakan masyarakat bisa kami lindungi,” tegas Kakorlantas. Pernyataan itu menegaskan bahwa teknologi bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama dalam pengelolaan lalu lintas modern.
Secara operasional, Command Center KM 29 menjalankan sejumlah fungsi strategis. Pertama, memantau kondisi jalan secara langsung melalui integrasi kamera pengawas dan sensor digital. Kedua, mengolah data sebagai dasar rekayasa lalu lintas. Ketiga, mendeteksi lebih dini potensi kemacetan, kecelakaan, maupun gangguan keamanan. Keempat, menjadi pusat koordinasi antara petugas lapangan dan instansi terkait agar respons dapat dilakukan secara simultan. Seluruh proses tersebut berlangsung dalam satu sistem terpadu yang memungkinkan pengambilan keputusan berlangsung tanpa jeda panjang.
Model ini berbeda dengan pola konvensional yang mengandalkan laporan manual setelah insiden terjadi. Kini, kecenderungan peningkatan volume kendaraan dapat dibaca lebih awal melalui analisis tren. Titik rawan kepadatan dapat dipetakan sebelum antrean panjang terbentuk. Dengan demikian, pengerahan personel dan penerapan rekayasa lalu lintas menjadi lebih tepat sasaran.
Dalam konteks persiapan Operasi Ketupat 2026, keberadaan Command Center KM 29 menjadi semakin krusial. Lonjakan arus mudik dan balik diperkirakan lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Melalui sistem ini, pergerakan kendaraan di jalan tol maupun arteri dapat dipantau secara menyeluruh, termasuk dukungan dari ETLE, drone patrol presisi, serta mobile command center yang terhubung langsung dengan pusat komando.
Kakorlantas juga menekankan bahwa modernisasi tidak menghilangkan sentuhan humanis dalam pelayanan. “Teknologi adalah pendukung, bukan pengganti petugas di lapangan,” ujarnya dalam berbagai kesempatan briefing. Artinya, keputusan tetap berada di tangan personel yang memahami kondisi sosial di lapangan, sementara sistem digital memperkuat kecepatan dan ketepatan respons.
Pendekatan berbasis data tersebut telah menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data Operasi Keselamatan 2026, angka kecelakaan tercatat menurun signifikan, termasuk penurunan fatalitas dibanding periode sebelumnya. Capaian ini memperlihatkan bahwa integrasi teknologi dan strategi preventif mampu meningkatkan kualitas keselamatan di jalan raya.
Dengan satu layar yang menampilkan jutaan pergerakan kendaraan, negara tidak sekadar memantau, tetapi juga melindungi. Command Center KM 29 menjadi representasi konkret transformasi pengelolaan lalu lintas nasional—mengutamakan pencegahan, mempercepat koordinasi, serta memastikan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama dalam setiap momentum mobilitas tinggi.

